Hadapi dua pilihan

Pada akhirnya, pemerintah harus memilih satu di antara dua pilihan yang dilematis. Tetap mempertahankan beleid harga bahan bakar minyak (BBM) Premium, atau menaikkan harga sumber energi itu agar sesuai harga pasar.

Masing-masing pilihan membawa konsekuensi pelik. Di tahun politik, mempertahankan harga BBM memang kebijakan populis. Konsumen BBM senang. Citra pemerintah yang pro-rakyat juga terjaga. Namun risikonya, rapor keuangan negara makin babak belur. Apalagi saat harga minyak bumi meningkat dan dollar menguat seperti saat ini.

Keuangan Pertamina dan PLN juga berdarah-darah karena harus menjadi bumper citra pemerintah. Kedua BUMN itu sulit mengembangkan bisnis, alih-alih menggelar ekspansi usaha.

Sebaliknya, menaikkan harga BBM bisa menyehatkan rasio-rasio keuangan negara. Posisi defisit pembayaran bisa ditekan karena selama ini impor BBM merupakan penyumbang terbesar defisit pembayaran. Tapi, menaikkan harga BBM bukan pilihan kebijakan populis saat ini. Beleid kenaikan harga BBM adalah sasaran empuk untuk menyerang pemerintah sekarang.

Apapun pilihannya, pemerintah harus sudah menimbang cermat setiap konsekuensi. Lebih penting lagi, antisipasi atas segala efek buruknya juga telah disiapkan.

Nah, kecepatan memutuskan beleid harga BBM yang kini krusial karena berkaitan dengan penyelamatan rupiah yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Sebab, otot rupiah kian hari kian mencemaskan. Pekan-pekan ini rupiah terpuruk dalam waktu sangat singkat dan cepat, dan terus mengukir posisi terburuk dalam dua dekade terakhir.

Merujuk data Bank Indonesia (BI), kemarin (10/10), nilai kurs menguat tipis menjadi Rp 15.215 per dollar AS. Namun, posisi rupiah melemah sekitar 2%-an sejak awal Oktober 2018.

Selain terhadap dollar AS, rupiah melemah nyaris terhadap semua mata uang negara lain. Terhadap dollar Singapura, dollar Australia, ringgit Malaysia, rupee India, baht Thailand, maupun peso Filipina. Bahkan terhadap kyat Myanmar pun rupiah bertekuk lutut 42% sepekan terakhir.

Apa yang salah dengan rupiah, sehingga harganya begitu murah di mata dunia? Entahlah. Tugas otoritas moneter, tim ekonomi kabinet, serta para ekonom untuk mencari jawaban dan meramu formulasi penguatan rupiah. Yang jelas, mudarat pelemahan rupiah lebih besar ketimbang manfaatnya bagi kita.•

Barly Haliem Noe

Reporter: Barly Haliem
Editor: Tri Adi

Reporter: Barly Haliem
Editor: Tri Adi

TAJUK