KUR dan UMKM pendorong ekonomi

Peran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dalam meningkatkan bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) akan mendorong perekonomian nasional secara signifikan. Pelaku UMKM kembali mengambil peran dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, di tengah kondisi ekonomi di pasar global yang kurang kondusif dan sikap pelaku korporasi yang cenderung wait and see.

UMKM terus menunjukkan perkembangan bisnisnya. Ini terlihat dari sikap UMKM yang meminta perbankan via pemerintah untuk menambah plafon KUR di tahun 2018. Sebelumnya, plafon penyaluran KUR sebesar Rp Rp 117,08 triliun, dan akan ditambah menjadi Rp 123,53 triliun. Dari penambahan plafon tersebut menunjukkan bahwa geliat UMKM kian meningkat dan terus tumbuh.

Harus disadari, peran UMKM memainkan posisi penting di saat ekonomi global tidak stabil. UMKM mampu menjadi motor lokomotif penggerak sektor riil untuk mendorong perekonomian nasional. UMKM sebagai pahlawan ekonomi nasional, yang mampu survive di saat rupiah mendapat tekanan terhadap dollar, dan The Fed menunjukkan gelagat kenaikan suku bunga.

Potensi UMKM memang cukup besar di Indonesia. Ada 59,26 juta UMKM di Indonesia, dengan kontribusi hingga Rp 850 triliun per tahun pada produk domestik bruto (PDB). Diprediksi pada 2018-2020 jumlah UMKM bisa menembus 65 juta unit. Peran UMKM lainnya adalah penciptaan tenaga kerja, pengentasan kemiskinan, serta pengurangan pengangguran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi UMKM terhadap perekonomian cukup besar mencapai 61,41%, sementara penyerapan tenaga kerja UMKM mendominasi hampir 97% dari total tenaga kerja nasional.

Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi

OPINI